Melampaui Tradisi: Perjalanan Artistik Wayan Aris Sarmanta dalam ARISE

Melampaui Tradisi: Perjalanan Artistik Wayan Aris Sarmanta dalam ARISE

SANUR, Bali — Tradisi tidak selalu berbicara tentang masa lalu. Di tangan seniman muda Wayan Aris Sarmanta, tradisi justru menjadi ruang untuk membayangkan masa depan. Melalui pameran tunggal bertajuk ARISE, Aris mengajak publik melihat kembali seni lukis Batuan sebagai praktik budaya yang terus hidup, berkembang, dan menemukan relevansinya dalam konteks seni rupa kontemporer.

Diselenggarakan di ARTSpace, ARTOTEL Sanur Bali, pameran ini berlangsung pada 10 Agustus–19 Oktober 2026 dan menampilkan karya-karya terbaru yang lahir dari perjumpaan antara akar tradisi Bali dengan pengalaman personal serta dinamika sosial masa kini.

Tradisi sebagai Titik Awal
Lahir dan besar di Desa Batuan, Gianyar, Wayan Aris Sarmanta (b.1995) tumbuh di lingkungan yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan seni lukis Bali. Sejak usia tujuh tahun, ia diperkenalkan pada dunia melukis oleh almarhum kakeknya, I Wayan Regug (d.2017), seorang pelukis tradisional Batuan.

Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya bahwa seni tidak hanya hadir sebagai objek visual, tetapi juga sebagai bagian dari ritual, ingatan, dan cara masyarakat memaknai kehidupan.

Berangkat dari pengalaman itu, Aris tidak melihat seni lukis Batuan sebagai bentuk yang harus dipertahankan secara utuh. Sebaliknya, ia memosisikannya sebagai fondasi konseptual yang selalu terbuka untuk ditafsirkan kembali.

“Tradisi, bagi saya, adalah ruang pembelajaran sekaligus medan eksplorasi,” ungkap Aris dalam pembukaan pameran di ARTOTEL Sanur, Bali.

Membaca Kembali Seni Lukis Batuan
Dalam praktik artistiknya, Aris mengolah kembali karakter khas seni lukis Batuan, kerumitan garis, kepadatan detail, ritme komposisi, narasi simbolik, serta dimensi spiritual, ke dalam bahasa visual yang lebih bebas dan eksperimental.

Simbol-simbol budaya, lanskap Bali, ritus, hingga fragmen memori kolektif hadir berdampingan dengan isu-isu kontemporer seperti modernisasi, perkembangan teknologi, pariwisata, hingga perubahan sosial.

Melalui pendekatan tersebut, ia menghadirkan pembacaan baru terhadap tradisi, tanpa kehilangan akar budaya yang membentuknya.

Dalam karya-karyanya, garis berubah menjadi ritme kehidupan, warna merekam perjalanan waktu, sementara ruang-ruang kosong membuka kemungkinan dialog antara ingatan, pengalaman, dan imajinasi.

Tradisi yang Terus Bertumbuh
Bagi Aris, pembaruan bukanlah upaya memutus hubungan dengan masa lalu, melainkan cara memperluas kemungkinan seni lukis Batuan untuk terus berdialog dengan perkembangan zaman.

Sebagai seniman muda, ia berupaya membawa idiom-idiom seni lukis Bali ke dalam praktik seni rupa kontemporer melalui eksplorasi yang lebih terbuka, reflektif, dan personal.

Melalui ARISE, ia menegaskan keyakinannya bahwa tradisi hanya akan tetap hidup ketika diberi ruang untuk bernapas, dipertanyakan, ditafsirkan ulang, dan terus dikembangkan.

Setiap karya menjadi ruang perjumpaan antara warisan dan penciptaan baru, antara akar budaya dan realitas kontemporer.

Tentang Pameran
Lebih dari sekadar pameran tunggal, ARISE menjadi penanda perjalanan artistik Wayan Aris Sarmanta dalam membangun dialog antara tradisi dan seni rupa kontemporer. Pameran ini menunjukkan bahwa seni lukis Bali tidak berhenti sebagai warisan sejarah, melainkan terus berkembang sebagai praktik budaya yang hidup bersama perubahan zaman.

Dari akar tradisi Batuan, Aris menghadirkan berbagai kemungkinan baru, sebuah perjalanan artistik yang mencerminkan pencarian, harapan, dan keberanian seorang perupa muda untuk terus bereksperimen tanpa kehilangan asal-usulnya.

ARISE
A Solo Exhibition by Wayan Aris Sarmanta

10 August – 19 October 2026
ARTSpace, ARTOTEL Sanur Bali

Supported by Studio Nutur & Senidibali
Presented by ARTOTEL Sanur Bali

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *