Ubud, Bali – Buki Gallery di Bumi Kinar mempersembahkan SAMATRA: Quiet Gestures, sebuah pameran kelompok yang berlangsung pada 25 Juli–3 Oktober 2026. Menghadirkan karya A. Jasmine, Dyah Ayu Wulandari, Made Virgie Avianthy, Novieta Tourisia, dan Studio Estéh, pameran ini mengajak publik untuk kembali memaknai hubungan manusia dengan alam melalui tindakan-tindakan sederhana yang kerap luput dari perhatian.
Dalam bahasa Bali, Samatra memiliki beragam makna, mulai dari suguhan sederhana, sapaan singkat, sambutan yang tulus, hingga sesuatu yang diberikan secukupnya. Berangkat dari pemaknaan tersebut, pameran ini menghadirkan karya-karya seniman yang merefleksikan hubungan mereka dengan alam, ruang hidup, dan keseharian melalui gestur-gestur sunyi.
Kurator pameran, Gustra Adnyana, menjelaskan bahwa alih-alih menawarkan jawaban yang besar atau spektakuler, SAMATRA mengajak pengunjung untuk memperhatikan isyarat-isyarat kecil yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian, perhatian, rasa syukur, dan tindakan sederhana menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh karya. Melalui berbagai medium, para seniman menunjukkan bahwa perubahan sering kali bermula dari kesadaran yang tumbuh dalam keseharian.
Para seniman menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam memaknai tema tersebut. Studio Estéh mengajak kita menelusuri paradoks berpikir dan menyadari bahwa setiap cara pandang memiliki batasnya.
Novieta Tourisia menghadirkan percakapan antara tanah, tumbuhan, kain, dan tubuh sebagai satu siklus kehidupan. Berbasis di Ubud, Bali, Novieta Tourisia adalah seniman tekstil, peramu pewarna alami, penulis, dan pendiri Cinta Bumi Artisans. Praktik multidisiplin yang ia jalankan mengeksplorasi pertemuan antara tekstil, kain kulit kayu, kertas, dan bahasa, merajut ingatan leluhur, kehidupan domestik, serta revolusi-revolusi kecil yang lahir dari praktik merawat dalam keseharian.

Made Virgie Avianthy menelusuri bagaimana seseorang tetap hidup melalui ingatan, cerita, dan ritual yang diwariskan. Made Virgie tumbuh dalam identitas tradisional Bali yang diwariskan secara lisan oleh kedua orang tuanya. Ketertarikannya terhadap praktik-praktik tradisi masyarakat Hindu Bali semakin berkembang sejak menempuh studi di Bandung dengan fokus pada film dokumenter dan eksperimental.
Dalam praktik berkaryanya, Virgie menelusuri kembali tradisi-tradisi masyarakat Hindu Bali sebagai upaya membaca ulang arsip, ingatan, dan kepercayaan yang hidup di dalamnya, khususnya yang berkaitan dengan upacara Ngaben. Karyanya telah dipresentasikan dalam berbagai festival dan pameran, antara lain ARKIPEL Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, Czas Letni Festival (Polandia), ELSE Moving Image Screening Series di Doc & Pub Thailand, Ba-Bau AIR (Vietnam), dan Foto Bali International Photography Festival.

A. Jasmine mengolah proses menghapus sebagai cara mengingat, menemukan cahaya dari dalam kegelapan. Dalam praktik kreatifnya, Jasmine senantiasa mengeksplorasi visual yang mampu membangkitkan emosi dan banyak berfokus pada tema liminalitas (keadaan berada di antara dua fase, ruang, atau kondisi). Ia menggunakan beragam medium sebagai cara untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan dirinya sendiri sekaligus dengan orang lain. Dalam seri Hide and Ascend, mark-making berkembang melalui pendekatan yang berlawanan. Alih-alih menambahkan garis pada permukaan, jejak-jejak yang telah ada justru perlahan dihapus, membiarkan cahaya muncul dan menuntun setiap gambar menuju bentuk akhirnya. Setiap tindakan menghapus menjadi sebuah tindakan mengingat, sebuah pencarian akan tempat di mana cahaya menyingkap dirinya dari dalam kegelapan. Di antara awal dan akhirnya, proses ini menyimpan berbagai kemungkinan yang hidup di dalam lanskap-lanskap liminal pikiran.

Sementara Dyah Ayu Wulandari mengingatkan bahwa setiap langkah manusia selalu berpijak pada bumi yang sama, dan setiap tindakan memiliki kuasa untuk menghidupi ataupun menghabisi kehidupan. Dalam karyanya yang berjudul Lelampahan Menapak Bumi, Lelampahan berarti perjalanan, kisah, atau lakon. Karya ini berangkat dari kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan pusatnya, karya ini memandang kehidupan sebagai hubungan yang saling menghidupi.

Selain pameran, Buki Gallery juga akan menghadirkan serangkaian program publik sepanjang periode pameran, mulai dari temu seniman, diskusi, hingga lokakarya yang memperluas percakapan mengenai seni, lingkungan, dan praktik keseharian. Seluruh program akan berlangsung di area Bumi Kinar, sebuah resor eksklusif yang memadukan arsitektur tradisional Bali dengan sentuhan desain modern di tengah lanskap hijau Ubud.
Melalui SAMATRA, Buki Gallery berharap dapat membuka ruang dialog yang lebih dekat antara seni, alam, dan masyarakat. Pameran ini menjadi pengingat bahwa merawat bumi tidak selalu dimulai dari tindakan-tindakan besar, melainkan dari isyarat-isyarat kecil yang dilakukan dengan perhatian, kepedulian, dan kesadaran. Dari gestur yang sederhana, perubahan perlahan dapat tumbuh dan membentuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan alam.
Informasi Pameran
SAMATRA: Quiet Gestures
25 Juli – 3 Oktober 2026
Seniman: A. Jasmine / Dyah Ayu Wulandari / Made Virgie Avianthy / Novieta Tourisia / Studio Estéh
Lokasi
Buki Gallery at Bumi Kinar
Jl. Raya Goa Gajah, Kemenuh, Sukawati, Gianyar, Bali

