Bagaimana perempuan dari generasi dan latar budaya yang berbeda melihat dunia, mengingat masa lalu, dan menerjemahkan pengalaman mereka menjadi karya seni?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgi = Transendensi, pameran terbaru di Museum Pasifika, Bali, yang mempertemukan karya para seniman perempuan dari berbagai generasi, negara, dan tradisi artistik.

Berlangsung pada 9 Oktober hingga 9 Desember 2026, pameran ini mengajak pengunjung melihat lebih dari satu abad perjalanan seni perempuan, dari karya-karya modern yang berangkat dari potret, lanskap, kehidupan sehari-hari, budaya, dan pengalaman personal, hingga praktik seni kontemporer yang berkembang melalui tekstil, instalasi, bordir, tubuh, suara, teknologi, ekologi, material, hingga spiritualitas.
Namun, pameran ini bukan sekadar perjalanan sejarah seni perempuan. Nostalgi = Transendensi melihat masa lalu sebagai sesuatu yang masih hidup. Memori tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi dapat menjadi pengalaman, identitas, pengetahuan, dan akhirnya berubah menjadi kemungkinan baru.

Perjalanan dalam pameran ini bergerak melalui tiga gagasan utama: The Beginning, Memory & Identity, dan Transformation. Diawali dengan karya generasi seniman modern yang merekam manusia, tempat, budaya, dan kehidupan pada zamannya, pameran menghadirkan nama-nama seperti Alix Aymé, Bertha Lum, Emiria Soenassa, Georgette Chen, Léa Lafugie, Margaret Olley, Pan Yuliang, hingga Tyra Kleen. Karya-karya mereka memperlihatkan beragam cara perempuan seniman membangun posisi dan bahasa artistiknya dalam sejarah.
Dari sana, pameran bergerak menuju generasi yang lebih dekat dengan praktik seni kontemporer. Pengalaman personal, keluarga, tempat, tradisi, dan pengetahuan yang diwariskan menjadi material untuk membangun identitas baru. Karya-karya Eunju Park, Fadrié, Kartini Basuki, Lala Tamara, Luh’De Gita, Mangku Muriati, Mella Jaarsma, Meta Enjelita, Ni Nyoman Sani, Nunung WS, Ratmini Soedjatmoko, Salima Hakim, Satya Cipta, dan Yani Mariani memperlihatkan bahwa identitas bukan sesuatu yang statis. Ia terus dibentuk, dipertanyakan, dan dinegosiasikan melalui pengalaman.

Kemudian, pada bagian Transformation, kemungkinan-kemungkinan baru terbuka melalui praktik seni kontemporer. Material, teknologi, tubuh, suara, ekologi, spiritualitas, dan berbagai bentuk pengetahuan menjadi cara untuk membawa warisan masa lalu ke dalam konteks hari ini.
Hubungan antargenerasi yang ditawarkan pameran ini pun bukan tentang mempertahankan sesuatu persis seperti sebelumnya. Justru sebaliknya. Yang diwariskan dapat diolah kembali. Tradisi dapat dibaca ulang. Memori dapat menemukan makna baru. Dan pengalaman dapat berkembang menjadi bahasa artistik yang baru.

Menariknya, perjalanan para seniman yang hadir dalam pameran ini juga memiliki jejak yang luas dalam sejarah seni internasional. Karya mereka berada dalam koleksi dan institusi seni dunia, termasuk The Metropolitan Museum of Art, British Museum, National Gallery Singapore, National Gallery of Australia, National Gallery of Victoria, Art Gallery of New South Wales, Smithsonian American Art Museum, Art Institute of Chicago, hingga Singapore Art Museum.
Pertemuan karya-karya tersebut di Museum Pasifika menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana praktik seni perempuan dari Asia-Pacific terhubung dengan jaringan sejarah seni yang lebih luas. Di saat yang sama, pameran ini membuka ruang untuk melihat pengalaman perempuan, baik yang bersifat personal, sosial, budaya, maupun historis, diterjemahkan ke dalam beragam bahasa dan praktik seni.
Pada akhirnya, Nostalgi = Transendensi tidak hanya mengajak kita melihat ke belakang. Pameran ini mengajak kita bertanya: apa yang kita warisi, apa yang kita ingat, dan apa yang kita lakukan dengan semua itu untuk membentuk masa depan?
Pameran Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgi = Transendensi ini dibuka pada Jumat, 9 Oktober 2026, di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali. Pameran ini akan diresmikan oleh H. Giring Ganesha Djumaryo, S.I.Kom., Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, dan dibuka oleh Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D.

Bagi mereka yang tertarik pada seni perempuan, sejarah seni Asia-Pacific, atau bagaimana memori dan identitas diterjemahkan melalui praktik seni lintas generasi, pameran ini menawarkan kesempatan untuk melihat bagaimana masa lalu tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang telah berlalu—tetapi dapat terus hidup, berubah, dan membuka kemungkinan baru.
Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgi = Transendensi
9 Oktober–9 Desember 2026
di Museum Pasifika
ITDC Complex, Nusa Dua, Bali, Indonesia
Pameran terbuka untuk umum dari jam 10.00 AM sampai 6.00 PM (WITA).
Tiket tersedia di front desk Museum Pasifika atau bisa dibeli secara online di aplikasi tiket yang tersedia.
Untuk informasi lebih lanjut kunjungi museum-pasifika.com atau Instagram @museumpasifika

