
Di tengah derasnya arus hiburan cepat saji, Minikino Film Week 11 (MFW11) hadir sebagai ruang kontemplatif—mengajak kita berhenti sejenak, menonton dengan perlahan, dan mendengar cerita-cerita dari berbagai penjuru dunia. Digelar pada 12–19 September 2025, festival film pendek ini kembali menyatukan audiens, komunitas, dan pembuat film dalam semangat saling belajar dan merayakan keberagaman perspektif.
Tahun ini, MFW11 menandai sebuah langkah penting dengan memperkenalkan MFW Education, divisi baru yang menempatkan film pendek sebagai alat pendidikan sosial dan budaya. Bagi tim Minikino, sinema bukan sekadar tontonan, melainkan ruang dialog yang hidup. “Film pendek punya kekuatan untuk memicu empati dan mengajak kita berpikir lebih dalam. Ia bisa jadi pintu masuk ke dunia pendidikan yang lebih manusiawi,” ujar Edo Wulia, Direktur Festival.
Sebanyak 58 film pendek dari 59 negara dipilih khusus untuk program edukasi, dan disusun dalam 11 program tematik yang dilengkapi Panduan Nonton dan Belajar. Panduan ini menjadi jembatan antara tontonan dan diskusi, antara layar dan ruang kelas. Dirancang untuk pelajar, guru, hingga komunitas, materi ini membantu penonton memahami konteks film, sekaligus merangsang pemikiran kritis dan refleksi personal.

Tak berhenti di ruang formal, MFW11 juga menyasar ruang-ruang komunitas melalui Community Screening yang menjangkau wilayah di luar pusat kota seperti Tabanan, Buleleng, hingga Pererenan. Film-film dibawa langsung ke sekolah, ruang budaya, dan komunitas lokal untuk ditonton dan didiskusikan bersama. Bagi Minikino, membawa sinema ke tengah masyarakat adalah cara untuk mendekatkan budaya dengan kehidupan sehari-hari.
Komitmen terhadap inklusivitas juga menjadi bagian penting dari festival tahun ini. Sebanyak lima film disediakan dengan Audio Description untuk penonton tunanetra, dan lima lainnya dilengkapi Subtitles for the Deaf and Hard of Hearing (SDH). Bagi Fransiska Prihadi, Direktur Program MFW11, akses budaya tidak boleh menjadi hak eksklusif. “Inklusivitas adalah bagian dari cara kami merancang program sejak awal, bukan pelengkap,” tegasnya.
Tak hanya untuk dewasa, anak-anak juga diajak masuk ke dunia sinema melalui aktivitas kreatif seperti mewarnai, menulis cerita, dan mengenal perangkat pra-animasi yang memperkenalkan sejarah awal sinema. Di sini, pendidikan dan imajinasi bertemu dengan cara yang sederhana namun membekas.

Sebagai simbol keberlanjutan, medali penghargaan tahun ini dirancang oleh studio lokal Kunang Jewelry dari logam daur ulang. Sebuah isyarat bahwa perhatian terhadap keberlanjutan tak hanya dilakukan di panggung sinema, tetapi juga dalam praktik sehari-hari.
Dengan semangat merawat ekosistem film pendek secara inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan, Minikino Film Week 11 mengajak kita merayakan sinema sebagai ruang perjumpaan dan pembelajaran bersama. Di layar-layar kecil ini, cerita-cerita besar tentang manusia dan dunia kembali hidup—dan kita diajak untuk mendengarnya, bersama-sama.
🔗 Info lengkap: minikino.org/filmweek
