GECKO ROOM: Menjelajahi Makna di Antara Cicak, Tokek, dan Manusia

GECKO ROOM: Menjelajahi Makna di Antara Cicak, Tokek, dan Manusia

Sering kali, kita melihat cicak dan tokek hanya sebagai penghuni dinding yang menumpang di dunia manusia. Namun, keduanya memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kehadiran mereka di sela-sela bangunan kita. Mereka hidup di persimpangan antara mitologi dan realitas, serta di antara kepercayaan tradisional dan budaya pariwisata kontemporer.

Tampilan karya Tuaya (Foto oleh Ucok Olok)

Di Bali, cicak dan tokek memiliki keterkaitan dengan Dewi Saraswati, simbol pengetahuan. Suara cicak yang muncul di tengah percakapan sering dianggap sebagai penegas kebenaran, sementara suara tokek kerap dijadikan petunjuk dalam mengambil keputusan. Cicak yang jatuh dipercaya membawa tanda harapan atau kewaspadaan, sedangkan suara tokek dikaitkan dengan keberuntungan—semakin banyak hitungan suara “tok”, semakin besar rezeki yang diyakini akan datang. Seiring waktu, dalam budaya pariwisata kontemporer, citra cicak dan tokek berkembang menjadi ikon yang muncul di kaos, patung kayu, hingga tato yang sempat menjadi tren.

Namun, di balik simbolisme dan kepercayaan tersebut, kita sering menganggap cicak dan tokek sebagai penghuni latar kehidupan urban, seolah mereka hanyalah aksesoris dalam dunia manusia. Padahal, bisa jadi justru kita yang hidup di antara mereka. Mereka sudah ada jauh sebelum rumah-rumah kita berdiri, tinggal di sela-sela dinding kota, di bawah cahaya lampu jalan, dan di ruang-ruang yang kita klaim sebagai milik kita. Lalu, apakah kita yang mengamati mereka atau justru mereka yang mengamati kita?

Dalam hiruk-pikuk kehidupan urban yang cepat berubah, cicak dan tokek tetap bertahan, beradaptasi, dan bergerak luwes menghadapi kehidupan. Mereka mampu bangkit kembali setelah kehilangan dan tetap bertahan di tengah berbagai kesulitan. Bisa jadi, mereka adalah saksi bisu kehidupan manusia—mengamati percakapan kita, kebiasaan kita, dan bagaimana kita mengisi ruang yang sebenarnya kita bagi bersama.

Tampilan karya Cayadilaga (Foto oleh Ucok Olok)

GECKO ROOM menghadirkan eksplorasi visual dari dua seniman sahabat, Cayadilaga dan Tuaya, yang menelusuri makna cicak dan tokek dalam berbagai perspektif. Berangkat dari pengamatan kehidupan sehari-hari, mereka tidak hanya melihat cicak dan tokek sebagai objek, tetapi juga sebagai simbol perenungan. Pameran ini menga jak kita untuk melihat kembali posisi manusia dalam ekosistem kehidupan, bukan sebagai pusat, melainkan sebagai bagian dari penghuni ruang yang hidup berdampingan, beradaptasi, dan menemukan makna di tengah perubahan.

Pameran perdana di Studio Nikama, ruang kreatif milik seniman Eka Sudarma Putra di area Sanur, menawarkan pengalaman intim dan hangat bagi para pengunjung. Dengan sistem kunjungan melalui janji temu, pameran ini memberikan kesempatan untuk menikmati karya-karya Tuaya dan Cayadilaga secara lebih dekat tanpa kesan mengintimidasi.

Studio Nikama (Foto oleh Ucok Olok)

Selamat datang di GECKO ROOM—sebuah ruang di mana kita tidak hanya mengamati, tetapi juga diamati oleh cicak dan tokek dari Cayadilaga dan Tuaya.

GECKO ROOM
Art Showcase by Cayadilaga & Tuaya
Nikama Studio, Sanur 9 Maret – 9 April 2025
Tulisan Pengantar Pameran oleh Gilang Propagila

Catatan redaksi:
Artikel ini ditulis ulang dengan sedikit modifikasi dari pengantar pameran yang ditulis oleh Gilang Propagila.
Foto oleh Ucok Olok

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *