I ❤️Bali: Slinat Menyuarakan Wajah Bali Kini Lewat Parodi

I ❤️Bali: Slinat Menyuarakan Wajah Bali Kini Lewat Parodi

Bali yang dahulu dikenal dengan keindahan alam dan budayanya kini menghadapi berbagai persoalan akibat pariwisata yang semakin tidak terkendali. Melalui pameran tunggalnya, “I ❤ Bali”, seniman jalanan asal Denpasar, Slinat (Silly In Art), mengajak kita melihat ulang wajah Bali dalam bentuk parodi yang menggelitik sekaligus menyentil realitas. Pameran ini berlangsung di TAT Art Space, Jalan Imam Bonjol, Denpasar, mulai 22 Maret hingga 12 April 2025.

Mengangkat Isu Pariwisata Bali dengan Wheatpaste

Slinat kembali ke akar berkaryanya, menggunakan teknik wheatpaste—sebuah metode seni jalanan yang telah digunakan selama berabad-abad sebagai medium propaganda dan ekspresi kelompok yang terpinggirkan. Teknik ini, yang melibatkan penempelan gambar di dinding secara gerilya, menjadi pilihan ideal bagi Slinat dalam menyampaikan kritiknya terhadap dampak negatif industri pariwisata di Bali.

Melalui karya-karyanya, Slinat menyoroti berbagai permasalahan yang terus menghantui Bali, mulai dari alih fungsi lahan, privatisasi pantai, kemacetan, hingga permasalahan sampah dan banjir yang tak kunjung terselesaikan. Menurutnya, meski isu-isu ini telah sering dibahas, ia tetap merasa perlu untuk terus menyuarakannya karena dampaknya yang semakin nyata.

Parodi Simbol “I ❤ Bali” sebagai Kritik Sosial

Dalam pameran ini, Slinat mengeksplorasi simbol “I ❤ Bali” yang telah lama menjadi ikon pariwisata, tetapi kini dimaknai ulang sebagai propaganda dengan nada satir. Baginya, slogan tersebut kini kehilangan makna manisnya, justru menjadi ironi di tengah kerusakan lingkungan dan perubahan sosial akibat industri pariwisata.

Sebelumnya, Slinat pernah memparodikan kampanye “Visit Bali Year” dengan citra penari legong yang mengenakan masker asap, menyoroti dampak eksploitasi berlebihan terhadap Bali. Kini, dalam “I ❤ Bali”, ia memperluas kritiknya dengan menghadirkan wajah-wajah terdistorsi, berlubang, dan menyatu dengan elemen-elemen industrial yang menggambarkan dampak negatif dari gentrifikasi dan pembangunan masif. Salah satu karya yang mencolok adalah gambar babi berkepala buldoser—sebuah metafora yang menggambarkan bagaimana lahan-lahan yang dulu terbuka kini berubah menjadi properti bernilai tinggi yang membatasi akses masyarakat lokal.

Estetika Realisme Sosial dengan Sentuhan Distopia

Gaya visual Slinat cenderung menggunakan warna hitam putih atau palet warna alami, menguatkan kesan realisme sosial yang menampilkan fakta tanpa polesan. Dengan pendekatan yang raw dan kasar, ia menghadirkan citra yang tidak hanya distopia tetapi juga realistis, mengajak penonton untuk merefleksikan keadaan Bali hari ini.

Pameran ini tidak sekadar menyajikan karya seni, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di balik slogan pariwisata yang indah, ada kenyataan yang perlu dipertanyakan. Apakah kita benar-benar mencintai Bali? Atau hanya menikmati eksploitasinya tanpa peduli pada dampaknya?

Lewat “I ❤ Bali”, Slinat menawarkan perspektif tajam terhadap paradoks pariwisata Bali. Dengan humor sarkastik dan kritik sosial yang kuat, ia mengajak kita melihat Bali bukan hanya sebagai destinasi eksotis, tetapi sebagai rumah yang harus dijaga dan dihormati. Pameran ini menjadi ajakan bagi kita semua untuk tidak hanya sekadar mengagumi Bali, tetapi juga turut serta dalam menjaga keberlanjutannya.

Slinat Solo Exhibition
Present: I 🖤 Bali

🗓 Opening: Saturday, 22 March 2025, 5 PM – 10 PM
🎧 Live Vinyl Set by @gilangpropag
✍️ Writer by @senisavitri
🎤 Host by @perwirakesuma

📅 Exhibition Period: 22 March – 12 April 2025
📍 TAT Art Space, Gang Rahayu 16A, Jalan Imam Bonjol, Denpasar – Bali
🎟 Free Entry

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *